• Home
  • Berita
  • Begini Nasib Kerikil Bekas Lempar Jumrah di Musim Haji

Begini Nasib Kerikil Bekas Lempar Jumrah di Musim Haji

Redaksi
Jul 01, 2023
Begini Nasib Kerikil Bekas Lempar Jumrah di Musim Haji
Jakarta -

Lempar jumrah atau lontar jumrah merupakan bagian dari ritual ibadah haji yang dilakukan di kota suci Makkah, Arab Saudi. Jemaah haji melemparkan kerikil ke tiga tiang yang berada dalam satu tempat bernama Jamarat, di Mina yang terletak sebelah timur Mekkah. Mungkin kalian penasaran, lantas diapakan kerikil-kerikil tersebut setelah dipakai lempar jumrah?

Menjawab pertanyaan ini, Saudi Press Agency (SPA) mengungkapkan prosedur yang diterapkan pada kerikil-kerikil lempar jumrah yang begitu banyak. E. Ahmed Al-Subhi, salah satu karyawan perusahaan Kedana, yang merupakan pengelola dan pengembang utama situs suci tersebut, mengungkapkan kepada SPA bahwa kerikil-kerikil itu langsung dikumpulkan setelah jemaah menyelesaikan ritual lempar jumrah.

"Kerikil akan jatuh secara vertikal ke bawah dan menetap di ruang bawah tanah fasilitas Jamarat. Kerikil akan terkumpul di kedalaman 15 meter di tiga pilar," kata Al-Subhi seperti dikutip dari Saudi Gazette.

Setelah itu, akan ada mesin seperti ban berjalan yang mengumpulkan batu-batu yang dilempar jemaah, kemudian dilakukan proses pengayakan dan penyemprotan dengan air untuk menghilangkan debu dan kotoran yang menempel di batu tersebut. Setelah itu, kerikil dipindahkan ke kendaraan dan disimpan untuk digunakan di musim haji berikutnya.

Al-Subhi membenarkan bahwa jumlah kerikil sudah disesuaikan dengan jumlah jemaah. Di sisi lain, sebagai bagian dari penataan dan pengelolaan kerikil jumrah, ada perusahaan lain bernama Hadiyah-Haji dan Karunia Mu'tamer yang bekerja sama dengan Kedana yang menerapkan inisiatif melayani para jemaah.

Kerikil bekas lempar jumrah dikumpulkan dan dibersihkan untuk digunakan lagi di musim haji berikutnya. Foto: Saudi Press Agency

Organisasi tersebut menyediakan lebih dari 80 ribu kantong kerikil untuk dilemparkan ke Jamarat, dan telah didistribusikan di 300 titik kontak bagi jemaah di jalur pejalan kaki di Muzdalifah, selain yang ada di fasilitas Jembatan Jamarat di Mina. Inisiatif organisasi ini dilakukan dengan pengawasan langsung dari Kedana, dan bertujuan meringankan para peziarah selama melakukan ritual mereka.

Saat ritual lempar jumrah, setiap jemaah haji diharuskan mengumpulkan tujuh butir kerikil untuk melemparkannya ke setiap tiang di Jamarat. Ada tiga tugu untuk melempar jumrah yakni Ula, Wustha, dan Aqabah. Masing-masing tiang tersebut memiliki jarak antara 200 meter hingga 250 meter. Tiang ini penanda tempat munculnya setan yang lantas dilempar kerikil oleh Nabi Ibrahim AS.

Ritual ini tak sekadar melempar kerikil asal mengenai tiang, melainkan sebagai simbolisasi umat Islam yang melakukan ibadah haji dalam melawan setan. Makna dari melempar jumrah adalah setan dapat merasa sakit dan terhina apabila seorang mukmin mengingat Allah dan menjalankan perintah-Nya. Karenanya, saat lempar jumrah, jemaah terus menyebut dan mengingat kuasa Allah SWT.



Simak Video "Melihat Lebih Dekat Cara Lempar Jumrah Ula, Wustho, dan Aqabah"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)
back to top