• Home
  • Berita
  • 10 Hewan Dianggap Punah yang 'Bangkit dari Kubur', Ada dari Indonesia

10 Hewan Dianggap Punah yang 'Bangkit dari Kubur', Ada dari Indonesia

Redaksi
Feb 15, 2025
10 Hewan Dianggap Punah yang 'Bangkit dari Kubur', Ada dari Indonesia
Daftar Isi
  • 1. Echidna berparuh panjang Attenborough (Zaglossus attenboroughi)
  • 2. Naga padang rumput Victoria tanpa telinga (Tympanocryptis pinguicolla)
  • 3. Ikan Coelacanth (ordo Coelacanthiformes)
  • 4. Peccary Chacoan (Catagonus wagneri)
  • 5. Lebah raksasa Wallace (Megachile pluto)
  • 6. Solenodon Kuba (Atopogale cubana)
  • 7. Kelelawar telinga besar Papua Nugini (Pharotis imogene)
  • 8. Kadal Teror (Phoboscincus bocourti)
  • 9. Burung pipit sikat antiokhia (Atlapetes blancae)
  • 10. Harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus)
Jakarta -

Sungguh menyedihkan mengetahui suatu spesies sudah tidak ada lagi. Begitu suatu spesies punah, tidak ada yang dapat mengembalikannya. Namun, terkadang, mereka dapat mengejutkan kita dengan 'bangkit dari kubur'.

Ada sejumlah spesies yang dulunya dianggap telah lama punah, kini muncul kembali, mengungkap bahwa mereka hanya menghilang sementara, tidak benar-benar punah sama sekali.

Berikut adalah 10 hewan yang pernah dianggap punah, namun tiba-tiba muncul lagi, dirangkum dari Discover Wildlife.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Foto: via Discover Wildlife

1. Echidna berparuh panjang Attenborough (Zaglossus attenboroughi)

Mamalia kecil yang aneh ini adalah satu dari tiga spesies dalam genusnya. Seperti semua echidna (yang jumlahnya tidak banyak), echidna berparuh panjang adalah monotremata dan bertelur. Faktanya, selain platipus, mereka adalah satu-satunya mamalia di Bumi yang bertelur. Dan itu bukan satu-satunya hal aneh tentang mereka.

Tubuh mereka juga ditutupi duri keratin pelindung dan memiliki moncong panjang yang menonjol untuk mencari serangga. Meskipun semua echidna langka, spesies khusus ini terbukti lebih sulit ditemukan daripada kebanyakan spesies lainnya.

ADVERTISEMENT

Spesies ini pertama kali dideskripsikan dan dikumpulkan pada 1961 dan tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu, sehingga banyak orang mengira spesies ini telah punah. Pada November 2023, rekaman mamalia luar biasa ini diambil di rumahnya, Pegunungan Cyclops, Jayapura, Papua, Indonesia, lebih dari 60 tahun setelah terakhir kali terlihat.

Foto: via Discover Wildlife

2. Naga padang rumput Victoria tanpa telinga (Tympanocryptis pinguicolla)

Kadal Australia ini tidak pernah terlihat selama lebih dari 50 tahun, namun ditemukan kembali di 2023. Dulunya, hewan ini umum berkeliaran di negara bagian Victoria, Australia. Spesies ini menjadi sangat terancam punah pada 1960-an karena kerusakan habitat yang parah. Penampakan terakhir yang dikonfirmasi terjadi pada 1969.

Berdasarkan hal ini, sebuah studi yang diterbitkan pada 2019 menunjukkan bahwa spesies ini mungkin telah punah. Meskipun demikian, harapan untuk keberlangsungan hidupnya tetap ada karena berbagai penampakan yang belum dikonfirmasi, dan pada akhirnya, harapan ini terbukti, dengan survei ekologi yang menemukan kembali individu pertama di 2023.

Hewan ini kemudian ditangani badan konservasi setempat dan telah menghasilkan 16 individu yang sekarang berada dalam program pengembangbiakan di Melbourne Zoo.

Foto: via Discover Wildlife

3. Ikan Coelacanth (ordo Coelacanthiformes)

Ikan coelacanth dikenali dari catatan fosil sejak abad ke-19. Hewan purba ini diperkirakan telah punah pada akhir periode Cretaceous, sekitar 66 juta tahun yang lalu.

Pada 1938, seekor coelacanth hidup ditemukan dari kedalaman laut oleh seorang nelayan lokal di lepas pantai Afrika Selatan. Coelacanth juga muncul baru-baru ini perairan Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo pada Januari 2025.

Kemunculannya menghebohkan warga setempat karena banyak yang baru pertama kali melihatnya. Makhluk tersebut ditemukan seorang nelayan bernama Oskar Kaluku. Sayangnya, ikan dengan panjang 1 meter dan berat 41 kg itu ditemukan dalam keadaan mati.

Foto: via Discover Wildlife

4. Peccary Chacoan (Catagonus wagneri)

Seperti ikan coelacanth, untuk waktu yang lama ungulata mirip babi ini hanya dikenal dari catatan fosil. Namun, pada 1971, sekelompok ahli biologi memutuskan untuk menindaklanjuti rumor penampakan oleh penduduk setempat dan 'menemukan' spesies yang hidup di wilayah Chaco yang panas dan kering di Argentina.

Foto: via Discover Wildlife

5. Lebah raksasa Wallace (Megachile pluto)

Lebah raksasa Wallace, diambil dari nama kolektor pertamanya, Alfred Russell Wallace, adalah lebah soliter asli Indonesia. Serangga raksasa ini empat kali lebih besar dari lebah madu rata-rata, dengan panjang hingga 4 cm dan lebar sayap hingga 2,5 inci.

Lebah ini tidak pernah terlihat dan para ilmuwan tidak yakin apakah lebah ini masih ada. Para ahli entomologi sangat gembira ketika seekor spesimen betina ditemukan bersarang di dalam sarang rayap Hinggapada 2019. Spesies ini masih dianggap sangat rentan terhadap kepunahan, sebagian karena perkebunan kelapa sawit mengambil alih habitat mereka.

Foto: via Discover Wildlife

6. Solenodon Kuba (Atopogale cubana)

Solenodon adalah hewan nokturnal yang mirip tikus dengan moncong panjang yang bergetar dan air liur berbisa yang mereka gunakan untuk membunuh hewan mangsa kecil seperti kadal dan katak. Pada 1960-an, jumlah Solenodon Kuba telah menyusut sedemikian rupa sehingga hewan ini digambarkan sebagai salah satu hewan paling langka di Bumi, jika tidak punah sepenuhnya.

Pada 1970 mereka sebenarnya dinyatakan punah, tetapi empat tahun kemudian, pada 1974, satu individu ditemukan di Taman Nasional Kuba, sehingga membawa harapan baru bagi spesies tersebut.

Foto: via Discover Wildlife

7. Kelelawar telinga besar Papua Nugini (Pharotis imogene)

Hilang selama lebih dari satu abad, kelelawar yang penamaannya berdasarkan ukuran telinganya yang memang besar ini pertama kali dikoleksi pada 1890. Ia kemudian muncul lagi pada 1914, dan kemudian tidak terlihat lagi.

Lalu pada 2012, ketika dua mahasiswa PhD Queensland University beruntung yang mengoleksi banyak spesies kelelawar menemukan satu yang tidak dapat mereka identifikasi dengan mudah. Setelah melalui penelitian dan perbandingan yang cermat dengan spesimen museum, hewan itu ternyata betina dari spesies bertelinga besar yang telah lama dianggap punah. Kabar semacam ini menjadi kejutan menyenangkan bagi para konservasionis yang mengira spesies itu punah akibat hilangnya habitat dan perambahan manusia.

Foto: via Discover Wildlife

8. Kadal Teror (Phoboscincus bocourti)

Spesies lain yang hilang dari dunia sains selama lebih dari 100 tahun adalah kadal teror. Seperti kelelawar bertelinga besar di Papua Nugini, kasus kadal ini merupakan iklan yang bagus untuk kegunaan koleksi museum. Kedua spesies ini dikenal hanya dari satu spesimen yang diawetkan, yang darinya nama dan deskripsi diturunkan, dikenal sebagai holotipe.

Holotipe ini terbukti penting dalam memverifikasi penemuan kembali kedua spesies lazarus tersebut. Dalam kasus kadal teror, kadal ini pertama kali ditangkap sekitar 1870 di Kaledonia Baru dan dideskripsikan pada 1876, diduga punah, kemudian ditemukan sekali lagi di 2000.

Seperti banyak spesies dalam daftar ini, keterpencilan dan distribusinya yang sangat kecil telah menyebabkan keberadaannya sulit ditemukan. Diperkirakan kadal ini hanya ditemukan di dua pulau kecil di lepas pantai Kaledonia Baru.

Foto: via Discover Wildlife

9. Burung pipit sikat antiokhia (Atlapetes blancae)

Burung kecil Kolombia ini menjadi berita utama pada 2018 ketika ia ditemukan oleh seorang pengamat burung lokal. Ini adalah pertama kalinya burung tersebut tercatat dalam hampir 50 tahun. Ini juga pertama kalinya burung ini terlihat hidup sejak dinyatakan sebagai spesies yang berbeda.

Spesimen lama yang tidak diketahui tanggalnya telah beredar di berbagai koleksi museum sejak lama, dan baru pada 2007 ilmuwan melakukan peninjauan formal terhadap spesimen burung pipit sikat dan mengakui Atlapetes blancae sebagai spesiesnya sendiri, tetapi diduga telah punah. Sejak ditemukan kembali, para peneliti kini tahu di mana mencarinya dan lebih banyak individu telah ditemukan. Harapan untuk menyelamatkan spesies ini dari kepunahan pun meningkat.

Foto: via Discover Wildlife

10. Harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus)

Hewan terakhir dalam daftar ini sebenarnya belum ditemukan kembali. Namun ada sekelompok orang yang optimistis bahwa spesies ini akan ditemukan kembali, yakni marsupial mirip anjing yang juga dikenal sebagai harimau Tasmania.

Harimau Tasmania terakhir di Kebun Binatang Australia mati pada 1936, dan spesies ini diperkirakan telah punah sepenuhnya pada tahun 1960-an. Sejak saat itu, ada banyak penampakan yang belum dikonfirmasi, yang oleh sebagian orang dianggap cukup meragukan.

Harimau Tasmania telah menarik perhatian masyarakat kriptozoologi, subkultur orang-orang yang mencari dan mendiskusikan makhluk-makhluk yang dianggap legendaris atau telah punah. Sayangnya, meskipun banyak yang masih berharap harimau Tasmania belum punah, para ilmuwan telah menyatakan bahwa peluang harimau Tasmania masih ada di suatu tempat kurang dari 1%.



Spesies Penyu Black Marsh di Kamboja Terancam Punah

Spesies Penyu Black Marsh di Kamboja Terancam Punah


(rns/rns)
back to top